Pertanyaannya

Air minum kemasan sekali pakai tetap popu­ler di kampus, pada­hal risiko kese­hatan mik­ro­plas­tik makin dike­nal. Kami ingin tahu apa yang sebe­nar­nya mem­buat maha­siswa mem­beli botol ber­i­kut­nya: apa yang mereka keta­hui, sebe­rapa prak­tis, apakah mereka per­caya pada alter­na­tif­nya, apa yang dila­kukan teman-te­man­nya, atau apakah ada sta­siun isi ulang di dekat­nya.

Model­nya meng­ga­bungkan Theory of Plan­ned Beha­vior dengan model Kno­wle­dge, Atti­tude, and Pra­cti­ces, lalu meng­uji lima faktor ter­ha­dap per­i­laku kon­sumsi air minum.

Model penelitian: lima hipotesis, dari pengetahuan lingkungan dan kesehatan sampai kontrol perilaku.

Cara mengukurnya

  • 183 res­pon­den: maha­siswa S1 aktif di uni­ver­si­tas swasta di Tange­rang yang minum air di kampus, dipi­lih dengan pur­po­sive sam­pling.
  • Kue­sio­ner daring dengan skala Likert lima poin.
  • Stru­ctu­ral equ­a­tion mode­lling (SEM-PLS) di Smar­tPLS, sete­lah uji vali­di­tas dan reli­a­bi­li­tas.

Temuannya

  • 183

    responden

  • 0.6

    R², perilaku yang dijelaskan kelima faktor

  • 4 of 5

    faktor berpengaruh signifikan

FaktorArahpTHasil
Pengetahuan lingkungan dan kesehatanNegatif0.0042.888Signifikan
KenyamananPositif0.0082.650Signifikan
Persepsi risiko sumber air lainPositif0.0372.089Signifikan
Norma sosialPositif0.0841.729Tidak signifikan
Kontrol perilaku (stasiun isi ulang, botol sendiri)Negatif0.0332.135Signifikan
Uji hipotesis (signifikan bila p < 0,05 dan T > 1,96)

Maha­siswa yang lebih paham dampak kese­hatan dan ling­ku­ngan­nya mem­beli lebih sedi­kit air kemasan, dan sta­siun isi ulang yang mudah dijang­kau juga menu­runkan kon­sumsi. Kenya­manan dan kera­guan ter­ha­dap kea­manan sumber air lain men­do­rong ke arah seba­lik­nya. Apa yang dila­kukan teman tidak ber­pe­nga­ruh sig­ni­fikan: kepu­tu­san­nya ter­nyata rasio­nal, bukan sosial.

Yang bisa dilakukan kampus

  • Taruh fak­ta­nya di tempat airnya: edu­kasi kese­hatan soal mik­ro­plas­tik lang­sung di mesin isi ulang.
  • Lebih banyak titik isi ulang, supaya sta­siun selalu lebih dekat dari­pada mesin pen­jual.
  • Mesin yang ber­sa­ing dalam kep­rak­tisan: cepat dan mudah dipa­kai, dengan kua­li­tas air seperti TDS dan pH yang tampil lang­sung.

Keterbatasan

Pene­li­tian ini lintas-waktu tung­gal (cross-se­ctio­nal), hanya men­ca­kup uni­ver­si­tas swasta, dan ber­gan­tung pada per­i­laku yang dila­porkan sen­diri, semen­tara 41 persen vari­a­si­nya dije­laskan faktor lain. Eks­pe­ri­men lapangan dengan sta­siun isi ulang dan kajian sen­si­ti­vi­tas harga adalah lang­kah ber­i­kut­nya yang wajar.

Pertanyaan yang sering diajukan

  • Ya. Ia menulis bersama makalah tentang perilaku minum mahasiswa dan keberlanjutan di Jurnal Lentera Bisnis (SINTA 4) pada Januari 2026, semasa kuliah Magister Manajemen New Ventures Innovation di Universitas Prasetiya Mulya.
BagikanLinkedInXWhatsApp