Kawasan untuk orang yang kehilangan rumah, dirancang untuk menumbuhkan lebih dari sekadar rumah: material lokal yang ringan, air yang ditahan di tapak, sampah yang menjadi kompos, dan lingkungan yang mengajak penghuninya hidup selaras dengan alam.
Kompetisinya
Eco House Design Competition X diselenggarakan mahasiswa teknik sipil Universitas Gadjah Mada sebagai bagian dari 8th Civil in Action, dengan tema inovasi desain hunian tetap sebagai solusi relokasi pascabencana. Tim kami, CIRCLE AGHANATHA, terdiri dari empat mahasiswa Universitas Diponegoro: dua dari arsitektur, salah satunya saya, dan dua dari teknik sipil. Kami mengirim karya pada Juli 2019 dan meraih Juara Harapan 1.
Memupuk, bukan sekadar membangun
Bhavana berarti memupuk. Gagasannya kawasan yang menanam lebih dari batu dan semen: sebagian besar material alami supaya jejak karbonnya sekecil mungkin, sampah dipilah dan didaur ulang, air limbah rumah tangga disaring sebelum keluar kawasan, dan edukasi lingkungan supaya penghuninya membawa kebiasaan itu lebih jauh.
Bencana alam merupakan sebuah pelajaran berharga yang Bumi berikan kepada kita. Bagaimana cara kita menanggapi pelajaran itu sepenuhnya ada di tangan kita.
Tapak dan kawasannya
Tapaknya di Jalan Jenengan Raya, Depok, Sleman, Yogyakarta: dekat jalan raya dan tidak jauh dari kota, dengan bangunan sekitar yang rendah sehingga udara dan cahaya sampai ke setiap rumah. Panel mencatat lokasinya di luar zona bahaya gempa tinggi menurut Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi, dengan potensi tsunami rendah.
Deretan rumah berbagi tapak dengan fasilitas yang dibutuhkan lingkungan baru:
- Masjid, taman, taman bermain, dan area olahraga untuk kehidupan sehari-hari.
- Apotek hidup berisi tanaman obat.
- Zona edukasi dan daur ulang tempat sampah dipilah dan dipakai ulang.
- Sistem penyaringan air limbah rumah tangga, supaya limbah cair tidak mencemari lingkungan.
- Parkir dan pos jaga di pintu masuk.
Rumahnya
Setiap rumah berukuran 5 x 7,2 meter: ruang tamu di depan, ruang keluarga, dapur dan toilet, satu kamar tidur utama, dan dua kamar tidur anak.
- Panen air hujan: air dari atap dikumpulkan untuk dipakai ulang, dan pompa bisa mengalirkannya lagi ke atap untuk mendinginkan rumah.
- Atap 40 derajat yang mengurangi panas matahari yang masuk, dengan satu sisi ditinggikan untuk bukaan tambahan bagi udara dan cahaya, serta teritisan dalam yang menahan sinar langsung dari jendela.
- Biopori tipe I: sumur resapan yang memasukkan air hujan ke tanah supaya halaman tidak tergenang.
- Biopori tipe II: pipa berlubang yang mengubah sampah organik rumah tangga menjadi kompos.
Ringan dan kuat
Gaya gempa pada bangunan sebanding dengan beratnya, jadi rumah ini dibuat ringan. Kolom dan baloknya dari glugu, batang pohon kelapa. Dindingnya anyaman bambu, yang lentur di tempat bata akan retak. Pondasi menerus dari batu kali mengikat rumah menjadi satu, dan atapnya rumbia di atas kuda-kuda kayu kering. Kolom kayu berdiri di atas sloof kayu yang diangkur ke pondasi dengan angkur besi 12 mm setiap satu meter.
Semua ini bukan hal baru. Rumah tradisional Nusantara dari kayu dan bambu, beratap rumbia atau ijuk, sudah lama bertahan melewati gempa, dan desain ini meminjam logikanya.
Pelajaran
Untuk rumah pascabencana, keputusan terpenting justru yang tidak terlihat: seberapa ringan strukturnya, bagaimana ia diangkur, dan ke mana airnya pergi. Kami menyelesaikan itu lebih dulu dan membiarkan bentuknya mengikuti.
Pertanyaan yang sering diajukan
- Karya tim CIRCLE AGHANATHA, termasuk Nugraha Labib Mujaddid, untuk Eco House Design Competition X di Universitas Gadjah Mada (2019): kawasan relokasi pascabencana di Sleman, Yogyakarta, yang meraih Juara Harapan 1.
- Karena gaya gempa pada bangunan sebanding dengan beratnya. Material lokal yang ringan seperti glugu, anyaman bambu, dan rumbia membuat rumah tetap ringan dan lentur, seperti rumah tradisional Nusantara.




