# Grha Bhavana Eco House

> Karya kami untuk Eco House Design Competition X di UGM (2019): kawasan relokasi pascabencana di Sleman, Yogyakarta, dengan rumah ringan tahan gempa dari kayu kelapa, bambu, dan rumbia. Karya ini meraih Juara Harapan 1.

Kawasan untuk orang yang kehilangan rumah, dirancang untuk menumbuhkan lebih dari sekadar rumah: material lokal yang ringan, air yang ditahan di tapak, sampah yang menjadi kompos, dan lingkungan yang mengajak penghuninya hidup selaras dengan alam.

- Kawasan relokasi pascabencana di Sleman, Yogyakarta, dengan rumah dari kayu glugu, anyaman bambu, dan atap rumbia.
- Panen air hujan, atap 40 derajat dengan teritisan dalam, dan dua jenis biopori: satu untuk air hujan, satu untuk kompos.
- Juara Harapan 1 Eco House Design Competition X, UGM 2019, sebagai tim mahasiswa arsitektur dan teknik sipil.

- #4 Juara Harapan 1
- 36 m² rumah dengan denah 5 x 7,2 m
- 40° kemiringan atap penahan panas

- Peran: Anggota arsitektur, tim empat orang
- Periode: 2019
- Stack: Post-disaster housing, Earthquake-resistant design, Bamboo and timber, Rainwater harvesting, Site planning, 3D visualisation

**TL;DR** Grha Bhavana adalah karya CIRCLE AGHANATHA, tim empat mahasiswa Universitas Diponegoro yang salah satunya Nugraha Labib Mujaddid, untuk Eco House Design Competition X di Universitas Gadjah Mada tahun 2019: kawasan relokasi pascabencana di Sleman, Yogyakarta, yang dibangun dari material lokal yang ringan. Karya ini meraih Juara Harapan 1.

## Kompetisinya

Eco House Design Competition X diselenggarakan mahasiswa teknik sipil Universitas Gadjah Mada sebagai bagian dari 8th Civil in Action, dengan tema inovasi desain hunian tetap sebagai solusi relokasi pascabencana. Tim kami, CIRCLE AGHANATHA, terdiri dari empat mahasiswa Universitas Diponegoro: dua dari arsitektur, salah satunya saya, dan dua dari teknik sipil. Kami mengirim karya pada Juli 2019 dan meraih Juara Harapan 1.

*Grha Bhavana saat senja.*

## Memupuk, bukan sekadar membangun

Bhavana berarti memupuk. Gagasannya kawasan yang menanam lebih dari batu dan semen: sebagian besar material alami supaya jejak karbonnya sekecil mungkin, sampah dipilah dan didaur ulang, air limbah rumah tangga disaring sebelum keluar kawasan, dan edukasi lingkungan supaya penghuninya membawa kebiasaan itu lebih jauh.

> Bencana alam merupakan sebuah pelajaran berharga yang Bumi berikan kepada kita. Bagaimana cara kita menanggapi pelajaran itu sepenuhnya ada di tangan kita.

## Tapak dan kawasannya

Tapaknya di Jalan Jenengan Raya, Depok, Sleman, Yogyakarta: dekat jalan raya dan tidak jauh dari kota, dengan bangunan sekitar yang rendah sehingga udara dan cahaya sampai ke setiap rumah. Panel mencatat lokasinya di luar zona bahaya gempa tinggi menurut Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi, dengan potensi tsunami rendah.

Deretan rumah berbagi tapak dengan fasilitas yang dibutuhkan lingkungan baru:

- **Masjid, taman, taman bermain, dan area olahraga** untuk kehidupan sehari-hari.
- **Apotek hidup** berisi tanaman obat.
- **Zona edukasi dan daur ulang** tempat sampah dipilah dan dipakai ulang.
- **Sistem penyaringan air limbah rumah tangga**, supaya limbah cair tidak mencemari lingkungan.
- **Parkir dan pos jaga** di pintu masuk.

*Panel kawasan: lokasi, site plan, dan fasilitas.*

## Rumahnya

Setiap rumah berukuran 5 x 7,2 meter: ruang tamu di depan, ruang keluarga, dapur dan toilet, satu kamar tidur utama, dan dua kamar tidur anak.

*Denah rumah, dengan ruang-ruang berperabot dilihat dari atas.*

- **Panen air hujan**: air dari atap dikumpulkan untuk dipakai ulang, dan pompa bisa mengalirkannya lagi ke atap untuk mendinginkan rumah.
- **Atap 40 derajat** yang mengurangi panas matahari yang masuk, dengan satu sisi ditinggikan untuk bukaan tambahan bagi udara dan cahaya, serta teritisan dalam yang menahan sinar langsung dari jendela.
- **Biopori tipe I**: sumur resapan yang memasukkan air hujan ke tanah supaya halaman tidak tergenang.
- **Biopori tipe II**: pipa berlubang yang mengubah sampah organik rumah tangga menjadi kompos.

*Panel konsep.*

## Ringan dan kuat

Gaya gempa pada bangunan sebanding dengan beratnya, jadi rumah ini dibuat ringan. Kolom dan baloknya dari glugu, batang pohon kelapa. Dindingnya anyaman bambu, yang lentur di tempat bata akan retak. Pondasi menerus dari batu kali mengikat rumah menjadi satu, dan atapnya rumbia di atas kuda-kuda kayu kering. Kolom kayu berdiri di atas sloof kayu yang diangkur ke pondasi dengan angkur besi 12 mm setiap satu meter.

Semua ini bukan hal baru. Rumah tradisional Nusantara dari kayu dan bambu, beratap rumbia atau ijuk, sudah lama bertahan melewati gempa, dan desain ini meminjam logikanya.

*Di dalam rumah.*

**Sekilas karyanya**
- Kompetisi: Eco House Design Competition X, 8th Civil in Action
- Penyelenggara: Mahasiswa teknik sipil, Universitas Gadjah Mada
- Tema: Hunian tetap untuk relokasi pascabencana
- Tim: CIRCLE AGHANATHA: 2 mahasiswa arsitektur dan 2 teknik sipil, Undip
- Hasil: Juara Harapan 1
- Tahun: 2019

## Pelajaran

Untuk rumah pascabencana, keputusan terpenting justru yang tidak terlihat: seberapa ringan strukturnya, bagaimana ia diangkur, dan ke mana airnya pergi. Kami menyelesaikan itu lebih dulu dan membiarkan bentuknya mengikuti.

Source: https://nugrahalabib.com/id/work/grha-bhavana-eco-house
Author: Nugraha Labib Mujaddid (https://nugrahalabib.com)
Published: 2026-09-24. Updated: 2026-09-25.
